- Memperbaiki struktur tanah berlempung sehingga menjadi ringan.
- Memperbesar daya ikat tanah berpasir sehingga tanah tidak berderai.
- Menambah daya ikat tanah terhadap air dan unsureunsur hara tanah.
- Memperbaiki drainase dan tata udara dalam tanah.
- Mengandung unsur hara yang lengkap, walaupun jumlahnya sedikit (jumlah hara ini tergantung dari bahan pembuat pupuk organik).
- Membantu proses pelapukan bahan mineral.
- Memberi ketersediaan bahan makanan bagi mikrobia.
- Menurunkan aktivitas mikroorganisme yang merugikan (Yovita, 2001).
Pengolahan kotoran sapi yang mempunyai kandungan N, P dan K yang tinggi sebagai pupuk kompos dapat mensuplai unsur hara yang tanah butuhkan dan memperbaiki struktur tanah menjadi lebih baik (Iwan, 2002).
Pada tanah yang baik/sehat, kelarutan unsur-unsur anorganik akan meningkat, serta ketersediaan asam amino, zat gula, vitamin dan zat-zat bioaktif hasil dari aktivitas mikroorganisme efektif dalam tanah akan bertambah, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi semakin optimal (Rully, 1999).
PRODUKSI DAN KANDUNGAN KOMPOS ORGANIK
Seekor sapi mampu menghasilkan kotoran padat dan cair sebanyak 23,6 kg/hari dan 9,1 kg/hari (Tauscher et al. sitasi Iwan, 2002). Undang (2002) melaporkan bahwa seekor sapi muda kebiri akan memproduksi 15-30 kg kg kotoran per hari.
Kotoran yang sapi baru hasilkan tidak dapat langsung kita berikan sebagai pupuk tanaman, tetapi harus mengalami proses pengomposan terlebih dahulu.
Beberapa alasan mengapa bahan organik seperti kotoran sapi perlu pengomposan terlebih dahulu sebelum memanfaatkannya sebagai pupuk tanaman, antara lain adalah :
- bila tanah mengandung cukup udara dan air, penguraian bahan organik berlangsung cepat sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
- penguraian bahan segar hanya sedikit sekali memasok humus dan unsur hara ke dalam tanah.
- struktur bahan organik segar sangat kasar dan daya ikatnya terhadap air kecil, sehingga bila pembenaman secara langsung akan mengakibatkan tanah menjadi sangat remah.
- kotoran sapi tidak selalu tersedia pada saat kita perlukan sehingga sebelum menggunakan sebagai pupuk, pembuatan kompos merupakan cara penyimpanan bahan organik.
Kandungan nitrogen (N), phospor (P) dan kalium (K) dalam kotoran sapi potong tertera pada Tabel 1. Hasil analisis laboratorium Loka Penelitian Sapi Potong dan BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) Jawa Timur terhadap kompos organik (hi-grade) produksi Loka Penelitian Sapi Potong, datanya tertera pada Tabel 2.
Tabel 1. Kandungan N, P dan K dalam kotoran sapi potong