PROFESI PETANI DI INDONESIA MAKIN CERAH

lahan pertanian3-petaniwww.lmgaagro.com www.lmgaagro.web.id “Profesi Petani Di Indonesia Makin Cerah”. Toko Pertanian Online LMGA AGRO, CP P.Budi Telp. 082141747141; SMS/WA:08125222117. Jual benih, pupuk, pestisida,  dan sarana pertanian lainnya. Kami juga melayani konsultasi seputar pertanian hortikultura, apabila berminat silahkan hubungi kami. Rev 10/06/2020.

Petani Dan Kebijakan Dari Pemerintah

Di awal tahun tahun 2013 adalah awal langkah nyata dan berani dari pemerintah dengan keberpihakan dan kebahagiaan bagi petani di Indonesia. Yang mana pemerintah lewat kementrian Pertanian dan Perdagangan memberlakukan pengaturan impor produk hortikultura. Sebagai salah satu upaya untuk membangkitkan gairah hortikultura lokal agar bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Meskipun sana sini masih menemui beberapa ganjalan, kebijakan itu telah memberikan sebuah harapan baru bagi para petani dan pelaku hortikultura. Pada negeri yang hampir 60%  penduduknya mendapatkan kehidupan dari bercocok tanam ini. Dengan kebijakan seperti ini diharapkan produk Hortikultura (Sebagai langka awal) kita dapat menjadi bintang dan primadona di negeri sendiri. Yang pada akhirnya kembali juga manfaatnya ke petani dan negara. 

Melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor: 60/Permentan/OT.140/9/2012. dan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 60 Tahun 2012. pemerintah melakukan pengaturan impor terhadap 13 jenis produk hortikultura. yaitu: enam jenis buah-buahan (durian, nanas, melon, pisang, mangga, dan pepaya). empat jenis sayuran (kentang, cabai, kubis, dan wortel), dan tiga jenis bunga (krisan, anggrek, dan heliconia). Ke-13 komoditas itu selama periode Januari hingga Juni 2013 tidak rekomendasi masuk ke Indonesia.

Tanpa adanya daya dukung kebijakan pemerintah petani kita tidak akan berdaya saing terhadap gempuran produk Hortikultura Impor . Dan selanjutnya akan berimplementasi terhadap ketahanan pangan ( Khususnya Hortikultura ). Sebagai partisipasi langkah  kami mendukung kebijakan tersebut maka, untuk kebutuhan benih Hortikultura bisa hubungi kami di www.lmgaagro.web.id. Kami secara profesional akan melayani sepenuh hati dan sanggup mengirim ke seluruh Indonesia.

Pengaturan Impor

Menurut Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Hasanuddin Ibrahim, pengaturan impor produk hortikultura itu mendasari pada pertimbangan melimpahnya produksi dalam negeri.

“Sebenarnya tidak ada pembatasan impor, tapi kita hanya melakukan pengaturan waktu impor. Kapan boleh masuk dan kapan tidak boleh masuk. Karena untuk buah-buahan, pada triwulan I dan II ini sedang panen-panennya,” ujar Hasanuddin. Saat sela-sela menggelar acara Festival Hortikultura Jawa Tengah III yang pada Pusat Pelayanan Agribisnis Petani BW Agro Center Soropadan, Temanggung (11/3).

Sebenarnya, lanjut Hasanuddin, importir sendiri sudah tahu dan hafal kapan waktu yang tepat untuk memasukkan barang ke Indonesia. Hanya saja, perlu niatan yang baik untuk mempertimbangkan juga aspek kepentingan petani hortikultura kita sendiri. Oleh karena itu, perlu adanya kebijakan untuk lebih menegaskan hal itu sekaligus melindungi petani dalam negeri.

“Mereka sudah tahu, dan semua khalayak saya kira juga tahu, kapan waktunya petani kita panen dan kapan tidak ada panenan. Importir semestinya juga harus sayang pada petani kita. Sesama bangsa kita harus saling sayang. Kalau memang petani kita sedang punya barang, ya jangan mengimpor dong,” ungkap Hasanuddin.

Hasanuddin juga menegaskan bahwa impor tidak akan bisa menyelesaikan semua permasalahan. Harus mengoptimalkan dan mengembangkan potensi sumber daya hortikultura Indonesia yang sangat melimpah. untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus menjadikannya peluang dalam memenuhi permintaan pasar luar negeri yang juga cukup besar.

“Jangan semuanya penyelesaian dengan impor. Tanam dong. Kalau anda pengusaha punya uang, ikutlah tanam. Investasi dalam negeri. Penduduk kita kan banyak, ciptakan lapangan kerja dalam negeri. Kalau impor kan cuma berapa tenaga kerjanya,” tegas Hasanuddin.

Baca Juga : Cap Panah Merah Benih …
Dukungan Pemerintah Pada Petani Indonesia

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung, Bustanul Arifin, seperti termuat dalam harian Kompas (Senin, 4/2/2013). mengungkapkan, apa yang telah pemerintah lakukan tersebut adalah suatu hal yang bagus, meskipun terkesan cukup lambat.

Menurut ekonom senior INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) itu. setelah memperoleh tekanan dari masyarakat, pemerintah pelan-pelan mulai bergerak. untuk membangun dan mendorong kemajuan buah lokal, sayur khas domestik, dan bunga eksotik domestik, yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif.

“Masyarakat cukup resah terhadap kinerja ekonomi hortikultura yang jauh dari memadai. apalagi jika membandingkan dengan potensi dan peluang yang demikian besar,” tulis Bustanul.

Jika mencermati, lanjut Bustanul, nilai impor produk hortikultura Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan yang signifikan. Pada tahun 2007, volume impornya hanya sebesar US$ 798 juta. Kemudian naik menjadi US$ 1,7 miliar pada tahun 2011. Lantas pada periode Januari-Juli 2012 saja, volume impor produk hortikultura sudah mencapai US$ 1 miliar, atau setara Rp. 10 triliun. Yang mana lebih dari separuhnya, yakni US$ 600 juta, penyumbangnya dari impor buah.

Yang menarik, papar Bustanul, Indonesia tidak hanya mengimpor buah berupa buah subtropis yang sulit pengembangannya dalam negeri. seperti apel merah, anggur, pir, dan kiwi, tapi juga buah-buahan tropis yang yang sudah ada pada Indonesia. Lantas pemerintah, melalui Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan. secara berkala bermaksud mengeluarkan beberapa ketentuan impor hortikultura untuk melindungi petani hortikultura dalam negeri.

Baca Juga : Cara Belanja Pertanian Di Kawasan Perbatasan
Kebijakan WTO

Kebijakan pengaturan impor itu sendiri mendapat protes keras dari Pemerintah Amerika Serikat. Negeri Paman Sam itu telah melayangkan notifikasi kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). atas kebijakan Indonesia yang melakukan pembatasan impor produk hortikultura dan impor hewan dan produk hewan. Alasannya, penilaian kompleks terhadap kebijakan tersebut sehingga berdampak buruk bagi kegiatan ekspor produk hortikultura dan daging dari AS.

Menurut Bustanul, tidak ada pilihan bagi Indonesia, selain segera menjawab protes AS itu dalam waktu 60 hari. sebelum meningkat menjadi permintaan arbitrase yang lebih rumit dan menguras energi. Untuk itu, Indonesia bisa saja menggunakan argumen perdagangan adil, karena belum mendaftarkan sebagai produk khusus oleh hortikultura. sebagaimana beras, jagung, kedelai, dan gula.

“WTO masih dapat membenarkan mengenai ketentuan klausul proteksi pada produk khusus ini, sepanjang untuk ketahanan pangan, pengentasan rakyat miskin, dan pembangunan pedesaan. Untuk mendaftarkan sebagai produk khusus mengenai rentang, jenis, dan macam produk hortikultura tentu terlalu banyak dan beragam. Penggunaan argumen ”proteksi demi keadilan” masih cukup relevan sebagai hak jawab bagi Indonesia. dalam menghadapi notifikasi AS tentang ketentuan impor produk hortikultura,” tulisnya.

Baca Juga : Toko Pertanian Di Genggaman ….
Perlu Langkah Nyata Untuk Petani Indonesia

Bustanul juga menekankan pentingnya pemahaman bahwa kebijakan pemerintah terkait pengaturan impor produk hortikultura tersebut. semata-mata untuk kepentingan nasional yang lebih luas, yaitu untuk memberikan perlindungan dan sistem insentif bagi peningkatan produksi dan produktivitas dalam negeri.

Namun demikian, lanjut Bustanul, harus segera melakukan perbaikan struktur perdagangan dan distribusi produk hortikultura dalam negeri. Oleh para perumus kebijakan  bidang pertanian dan perdagangan. Pasalnya, kebijakan proteksi dan pembatasan impor tersebut tidak akan membawa dampak kesejahteraan bagi petani hortikultura jika tidak ada langkah nyata pada lapangan.

“Perlu segera mewujudkan dukungan pembiayaan bagi petani hortikultura sebelum Juni 2013. Perlu menyederhanakan skema pembayaran pelaku usaha ritel dan supermarket kepada petani, dengan memperpendek rentang waktu, jika perlu secara tunai. Pembenahan aransemen kelembagaan ini lebih efektif untuk menggairahkan produksi dan meningkatkan produktivitas hortikultura. Inilah esensi diplomasi ekonomi hortikultura pada pasar domestik yang juga penting,” pungkas Bustanul dalam tulisannya.

Oleh karena itu di dibutuhkan langkah kerja yang nyata dan terintegrasi dari semua komponen-komponen yang bisa mendukung suksesnya kemandirian pertanian dan petani di negeri kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *